ITERA NEWS. Unit Pelaksana Teknis (UPT) Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ITERA menginisiasi kajian multibencana di Indonesia, melalui webinar yang diadakan akhir Agustus lalu. Kegiatan ini menghadirkan tiga pakar yakni Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Indonesia Dr. Daryono,S.Si, M.Si yang juga menjabat Vice President Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Divisi Mitigasi Bencana Kebumian, Perekayasa Ahli Teknik Pantai dan Tsunami BTIPDP – BPPT RI, Dr. –Ing. Widjo Kongko, M.Eng, dan Koordinator Prodi Teknik Kelautan ITERA Dr.Eng Hendra Achiari, ST. MT.

Webinar yang diikuti sebanyak 1.209 pendaftar tersebut dipandu oleh moderator dari Dosen Teknik Kelautan ITERA Mustarakh Gelfi, S.T, M.Sc. Dalam pembukaan webinar Kepala UPT MKG ITERA Drs. Zadrach L. Dupe, M.Si., mengapresiasi antusias peserta yang semangat mengikuti webinar di tengah pandemi Covid-19. Webinar ke-2 yang diadakan UPT MKG ITERA merupakan ajang pembelajaran bagi berbagai pihak, mulai dari mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum. Webinar selanjutknya akan dilaksanakan pada Oktober mendatang.

Dalam webinar, Dr. Daryono menyampaikan materi tentang Membangun ketangguhan bahaya bencana melalui perencanaan dan perancangan kawasan gempabumi dan tsunami.  Dalam pemaparanya, Dr. Daryono menyebut pentingnya masyarakat tanggap terhadap bencana untuk mengurangi risiko yang timbul dari suatu bencana. Ia juga mengingatkan bahwa wilayah Indonesia memiliki 6 zona subduksi dengan 13 segmentasi megathrust dan 256 segmen sesar aktif, sehingga gempa bumi selalu terjadi setiap hari di Indonesia.

“Dalam 1 tahun bisa terjadi gempa bumi sebanyak 5.000-6.000 kali dengan kekuatan gempa lebih dari 5 SR bisa terjadi hingga 250-350 kali serta dalam 2 tahun sedikitnya ada satu kali gempa yang menyebabkan tsunami,”ujar Dr.Daryono.

“Dalam 1 tahun bisa terjadi gempa bumi sebanyak 5.000-6.000 kali dengan kekuatan gempa lebih dari 5 SR bisa terjadi hingga 250-350 kali serta dalam 2 tahun sedikitnya ada satu kali gempa yang menyebabkan tsunami.”

Dalam riwayat kejadian gempa, tahun 2013 memiliki trend yang unik yaitu adanya kenaikan pola kejadian gempa yang signifikan dari tahun 2013 hingga 2018. Dari data tersebut dapat diprediksi kemungkinan terjadinya gempa lebih dari 8 Skala Richter (megathrust) bisa terjadi di Indonesia.  “Kegiatan mitigasi ini perlu dan sangat penting dilakukan dimulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Sertifikasi kesiapsiagaan antar lembaga pemerintah yang bekerja sama juga perlu untuk meningkatkan taraf kesadaran dan keyakinan masyarakat ke pemerintah terkait mitigasi bencana di setiap kawasan yang memiliki kerentanan,” pungkas Dr.Daryono.

Sementara, Dr. –Ing. Widjo Kongko, M.Eng sebagai Perekayasa, Ahli Teknik Pantai dan Tsunami BTIPDP – BPPT RI membahas seputar potensi tsunami di Indonesia, dan mitigasi berbasis kearifan lokal. Berdasarkan data Dr. –Ing. Widjo Kongko menyebut 50 % intensitas tsunami banyak terjadi di Indonesia bagian timur, baik teknonik ataupun non-tektonik.

Kearifan Lokal

Sementara, mitigasi bencana berbasis kearifan lokal sudah ditemukan oleh para arkeolog dan peneliti kebencanaan, bahwa zaman dahulu istilah tsunami dan gempa bumi sudah sering disebut dalam upacara adat di setiap daerah di Indonesia. Di daerah Aceh , mitigasi bencana tsunami memiliki istilah smong. Istilah tersebut merupakan pesan bahaya bagi masyarakat di sana untuk memberikan arahan bahaya mengenai tsunami yang akan datang. Sementara pada masyarakat Jawa khususnya di buku Babad Tanah Jawa juga mengenal istilah tersebut yang dimasukan dalam lagu jawa sebagai pesan bahaya bencana. Di Palu, Sulawesi Tengah telah memiliki istilah kebencanaan tsunami dengan nama bombatalu. Sehingga Dr. Widjo menilai literasi bencana dan kearifan lokal merupakan pendekatan mitigasi bencana yang dapat dijalankan oleh pemerintah terkait untuk peningkatan mitigasi bencana sesuai dengan kearifan lokal yang ada.

Sementara, Kaprodi Teknik Kelautan ITERA, Dr.Eng Hendra Achiari, ST. M.T. memaparkan peranan teknik pantai dan ilmu lingkungan laut dalam mitigasi bencana. Saat ini, ITERA telah memiliki dua program studi yang masih serumpun dan berorieantasi pada kondisi laut, yaitu Prodi Teknik Kelautan dan Sains Lingkungan Kelautan. Dr.Hendra yang merupakan anggota Kelompok Keahlian Teknik Pantai ITB ini, menyebut, pemanfaatan keilmuan sains lingkungan kelautan dan rekayasa pantai dalam mitigasi kebencaanan memerlukan pengumpulan data dari studi lapangan (post disaster survey) yang biasanya melibatkan kolaborasi para peneliti/rekayasawan dari dalam dan luar negeri.

“Secara umum persiapan perangkat aparat negara seperti BPBD, Basarnas dan dinas lain yang terkait dari hasil penelitian ini dapat dikatakan cukup aktif dalam mengelola risiko bencana, akan tetapi perlu lebih banyak lagi support dari penelitian terkait bencana yang bisa membantu pemerintah dalam mengelola risiko,”

Seperti contoh penelitian kolaborasi dalam dan luar negeri antara ITB-ITERA-Waseda University (Japan) dan University East London (UEL – UK).  Dr. Hendra memaparkan contoh riset kolaborasi yang dipimpin oleh Dr. Ravindra Jayaratne peneliti senior (Reader in Coastal Engineering) dari UEL – Inggris yang mengkombinasikan hasil data observasi dari survey pasca tsunami yang dilakukan oleh team Prof. Tomoya Shibayama – Waseda University Japan, dengan penelitian simulasi numerik penyebaran gelombang tsunami untuk melihat efek penjalaran gelombang tsunami di Selatan Lampung. Dalam riset tersebut juga mempertimbangkan aspek kekuatan dan kelemahan wilayah Lampung Selatan dalam usaha mitigasi terhadap bencana yang akan datang.

“Secara umum persiapan perangkat aparat negara seperti BPBD, Basarnas dan dinas lain yang terkait dari hasil penelitian ini dapat dikatakan cukup aktif dalam mengelola risiko bencana, akan tetapi perlu lebih banyak lagi support dari penelitian terkait bencana yang bisa membantu pemerintah dalam mengelola risiko,”ujar Dr. Hendra.

Diakhri paparan, Dr. Hendra menyimpulkan bahwa sangat penting bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah dan institusi pendidikan untuk memperbanyak penelitian tentang mitigasi kebencanaan dan melakukan sosialisasi kepada warga yang tinggal di daerah rawan bencana, khususnya pemuda, pelajar dan mahasiswa setempat dapat menjadi salah satu persiapan di kala bencana terjadi. [Humas]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here