“Working Abroad: Opportunities, Challenges, and Strategic Preparation”
Program Studi Sains Data, Fakultas Sains (FS), Institut Teknologi Sumatera (ITERA) sukses menggelar Studium Generale pertama di semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 dengan mengusung tema “Working Abroad: Opportunities, Challenges, and Strategic Preparation”.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 8 Maret 2026 secara daring melalui Zoom Meeting dengan menghadirkan narasumber Rivalni Septiadi, S.Kel., yang merupakan Educator di Department for Education South Australia sekaligus Sports Instructor dan Swim Coach. Pada pembukaan kegiatan Studium Generale ini, disampaikan kata sambutan dari Kepala Program Studi Sains Data ITERA, Bapak Tirta Setiawan, S.Pd., M.Si. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan Studium Generale merupakan salah satu program akademik yang bertujuan untuk memberikan wawasan tambahan bagi mahasiswa di luar materi yang diperoleh selama perkuliahan. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menambah pengetahuan serta memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai peluang karir di tingkat internasional. Dalam sambutannya, beliau juga menyampaikan melalui kegiatan Studium Generale yang mengusung tema “Working Abroad: Opportunities, Challenges, and Strategic Preparation”, diharapkan para peserta dapat memperoleh wawasan mengenai peluang bekerja di luar negeri, tantangan yang mungkin dihadapi, serta strategi yang perlu dipersiapkan untuk dapat bersaing di tingkat global. Selanjutnya, kegiatan secara simbolis dibuka oleh beliau dan dilanjutkan dengan pemaparan materi yang dimoderatori oleh Ibu Fitri Nurjanah, S.Si., M.Mat., yang juga merupakan dosen Program Studi Sains Data ITERA.

Dalam kesempatan kali ini, Rivalni Septiadi, S.Kel. menyampaikan materi mengenai peluang berkarir di luar negeri bagi mahasiswa, khususnya di bidang teknologi dan sains data. Beliau menjelaskan bahwa Data Science merupakan profesi yang bersifat global atau borderless, sehingga memungkinkan seseorang untuk bekerja di berbagai negara maupun bekerja secara jarak jauh (remote work) untuk perusahaan internasional. Disebutkan bahwa saat ini banyak negara mengalami kekurangan talenta di bidang data dan teknologi, seperti Jerman, Finlandia, Australia, dan Singapura, sehingga membuka peluang besar bagi para profesional di bidang tersebut. Selain itu, dijelaskan pula beberapa jalur karir global yang dapat ditempuh oleh lulusan di bidang data, di antaranya melalui direct hire sebagai lulusan baru di perusahaan luar negeri, bekerja terlebih dahulu di dalam negeri untuk membangun pengalaman sebelum melamar ke luar negeri, serta bekerja secara remote untuk perusahaan internasional tanpa harus berpindah negara.
Selanjutnya, beliau juga menjelaskan bahwa bekerja di luar negeri memberikan berbagai peluang, seperti gaji yang lebih tinggi, pengalaman bekerja dengan standar internasional, serta kesempatan menggunakan teknologi terkini di bidang artificial intelligence, cloud computing, dan data engineering. Namun demikian, terdapat beberapa tantangan yang perlu dihadapi, seperti perbedaan budaya kerja, kemampuan komunikasi dalam bahasa Inggris, tekanan performa kerja, hingga proses administrasi dan perizinan kerja di negara tujuan. Oleh karena itu, beliau menekankan pentingnya persiapan strategis, seperti meningkatkan kemampuan teknis di bidang data (misalnya Python dan SQL), membangun portofolio proyek sebagai bukti kemampuan, meningkatkan kemampuan komunikasi global, serta memahami aspek legal dan administratif seperti visa kerja dan dokumen pendukung lainnya sebelum memutuskan untuk bekerja di luar negeri.
Selain itu, Rivalni Septiadi, S.Kel. juga menjelaskan mengenai pentingnya memahami aspek legal dan administrasi bagi seseorang yang ingin bekerja di luar negeri. Beliau menyampaikan bahwa setiap negara memiliki aturan dan kebijakan visa kerja yang berbeda, sehingga calon pekerja perlu mempersiapkan dokumen serta memahami prosedur yang berlaku di negara tujuan. Beberapa jalur visa kerja yang umum digunakan antara lain Skilled Worker Visa, Employer Sponsorship, EU Blue Card, serta Post-Study Work Visa. Dijelaskan pula bahwa berbagai negara memiliki permintaan yang tinggi terhadap tenaga profesional di bidang teknologi dan data, seperti Australia, Jerman, Singapura, Kanada, Inggris, Finlandia, Amerika Serikat, Selandia Baru, hingga Uni Emirat Arab (Dubai). Negara-negara tersebut menawarkan peluang karir yang luas bagi profesional data dengan berbagai skema visa kerja dan jalur migrasi tenaga terampil.
Selanjutnya, beliau juga memaparkan roadmap atau tahapan persiapan bagi mahasiswa yang ingin membangun karier global, khususnya bagi mahasiswa Program Studi Sains Data. Pada tahap awal perkuliahan, mahasiswa disarankan untuk fokus pada penguasaan dasar pemrograman dan keterampilan teknis. Kemudian pada tahap berikutnya, mahasiswa dapat mulai membangun portfolio proyek melalui platform seperti GitHub atau Kaggle sebagai bukti kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan menggunakan data. Pada tahap yang lebih lanjut, mahasiswa juga disarankan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, membangun portfolio yang kuat, serta mempersiapkan CV yang sesuai dengan standar internasional. Dengan persiapan tersebut, mahasiswa diharapkan dapat mulai melamar pekerjaan global, program magang internasional, maupun pekerjaan remote di perusahaan luar negeri.
Di akhir pemaparannya, Rivalni Septiadi, S.Kel. juga memberikan motivasi kepada para peserta agar tidak ragu untuk mencoba berbagai peluang yang ada. Beliau menyampaikan bahwa mahasiswa tidak perlu terlalu fokus pada pengumpulan sertifikat tanpa memiliki proyek nyata, tetapi lebih penting untuk membangun portfolio, memperluas jaringan profesional, melakukan riset sebelum melamar pekerjaan, serta berani menghadapi penolakan sebagai bagian dari proses menuju peluang yang lebih besar.
Para peserta yang mayoritas adalah mahasiswa yang turut aktif dalam mengikuti kegiatan ini dengan
menyampaikan berbagai pertanyaan pada sesi diskusi.



















