Category: Studium Generale

“Financial Technology dan Sains Data: Peluang dan Tantangan di Era Digital”

Studium Generale, 14 Juni 2026
“Financial Technology dan Sains Data: Peluang dan Tantangan di Era Digital”
Program Studi Sains Data, Institut Teknologi Sumatera

Program Studi Sains Data, Fakultas Sains (FS), Institut Teknologi Sumatera (ITERA) sukses menyelenggarakan Studium Generale keempat pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 dengan mengusung tema “Financial Technology dan Sains Data: Peluang dan Tantangan di Era Digital”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 14 Juni 2026 secara daring melalui Zoom Meeting dan menghadirkan dua narasumber dari PT Bank SMBC Indonesia, yaitu Abednego Torang Bolon Panjaitan, S.Kom selaku Digital Banking MIS & Analytics Specialist serta Ilham Tubagus Arfian, S.Kom selaku Digital Banking Solution Developer.

Pada pembukaan kegiatan Studium Generale, disampaikan kata sambutan dari Kepala Program Studi Sains Data ITERA, Bapak Tirta Setiawan, S.Pd., M.Si. Beliau menyampaikan bahwa Studium Generale merupakan sarana bagi mahasiswa untuk memperoleh wawasan dan pengalaman praktis langsung dari para profesional di dunia industri. Oleh karena itu, beliau mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan kesempatan ini dengan baik serta aktif berpartisipasi dalam sesi diskusi dan tanya jawab.

Beliau juga menjelaskan bahwa tema “Financial Technology dan Sains Data: Peluang dan Tantangan di Era Digital” merupakan topik yang sangat relevan dengan perkembangan bidang Sains Data saat ini. Meskipun, mata kuliah Financial Technology pernah diajarkan pada kurikulum sebelumnya dan tidak lagi tersedia pada kurikulum terbaru, pemahaman mengenai FinTech tetap penting untuk dipelajari mengingat pesatnya transformasi digital di sektor keuangan yang didukung oleh pemanfaatan data. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan dapat memperoleh wawasan tambahan mengenai penerapan Sains Data dalam industri keuangan digital secara langsung dari para praktisi. Selanjutnya, kegiatan secara simbolis dibuka oleh beliau dan dilanjutkan dengan pemaparan materi yang dimoderatori oleh Ibu Fitri Nurjanah, S.Si., M.Mat., yang juga merupakan dosen Program Studi Sains Data ITERA.

Dalam pemaparannya, Abednego Torang Bolon Panjaitan, S.Kom menjelaskan bahwa data telah menjadi aset strategis utama di era digital. Setiap aktivitas perbankan digital, mulai dari pembukaan rekening, transaksi pembayaran, penggunaan aplikasi mobile banking, hingga pengajuan pinjaman, menghasilkan data yang dapat diolah menjadi informasi bernilai bagi perusahaan. Menurut beliau, keunggulan kompetitif industri perbankan saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah cabang atau infrastruktur fisik, tetapi juga oleh kemampuan organisasi dalam mengelola dan memanfaatkan data untuk menghasilkan keputusan bisnis yang lebih tepat dan cepat.

Beliau juga menjelaskan bagaimana transformasi digital telah mengubah industri perbankan dari proses yang sebelumnya dilakukan secara manual menjadi layanan yang berbasis teknologi dan data. Dalam sistem perbankan modern, setiap transaksi menghasilkan berbagai jenis data seperti informasi transaksi, lokasi pengguna, perangkat yang digunakan, metode pembayaran, hingga data merchant. Berbagai data tersebut kemudian dimanfaatkan untuk meningkatkan pengalaman nasabah, mendukung manajemen risiko, meningkatkan efisiensi operasional, serta mendorong pertumbuhan bisnis perusahaan.

Bapak Ilham Tubagus Arfian, S.Kom memaparkan pentingnya peran software engineering sebagai fondasi utama dalam ekosistem data. Beliau menjelaskan bahwa sebelum data dapat dianalisis, diperlukan sistem yang mampu mengumpulkan, menyimpan, dan mendistribusikan data dalam skala besar. Proses tersebut melibatkan berbagai komponen teknologi, mulai dari aplikasi pengguna, backend system, database, hingga data platform yang menjadi pusat pengelolaan data organisasi.

Pada sesi berikutnya, dijelaskan konsep data platform yang terdiri atas Data Lake, Data Warehouse, dan Data Mart. Data Lake berfungsi sebagai tempat penyimpanan data mentah dari berbagai sumber, sedangkan Data Warehouse digunakan untuk menyimpan data yang telah dibersihkan dan terstruktur sehingga siap dianalisis. Adapun Data Mart merupakan subset data yang telah disesuaikan dengan kebutuhan unit bisnis tertentu, seperti divisi kredit, fraud detection, maupun pemasaran. Melalui arsitektur ini, organisasi dapat mengelola data secara lebih efektif dan mendukung pengambilan keputusan yang berbasis data.

Selain membahas infrastruktur data, para narasumber juga menjelaskan berbagai peran profesional yang terlibat dalam pengelolaan data di industri perbankan. Beberapa profesi yang diperkenalkan antara lain Data Scientist, Data Engineer, Data Analyst, Business Intelligence Specialist, Software Engineer, serta Risk and Compliance Analyst. Masing-masing profesi memiliki tanggung jawab yang berbeda, namun saling berkolaborasi untuk menghasilkan solusi berbasis data yang dapat mendukung kebutuhan bisnis dan operasional perusahaan.

Dalam pemaparannya, narasumber menekankan bahwa perkembangan karier di bidang data tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teknologi dan tools semata. Pemahaman terhadap proses bisnis, khususnya bisnis perbankan dan keuangan, menjadi faktor yang sangat penting bagi seorang profesional data. Selain itu, kemampuan komunikasi, kesadaran terhadap risiko, kepatuhan terhadap regulasi, serta kemampuan menyampaikan hasil analisis kepada pengambil keputusan juga menjadi kompetensi yang harus dimiliki oleh talenta data masa depan.

Materi kemudian dilanjutkan dengan berbagai penerapan Data Science dalam industri perbankan. Salah satu penerapan yang dibahas adalah credit scoring, yaitu proses penilaian risiko kredit menggunakan data dan model analitik untuk membantu bank menentukan kelayakan pemberian pinjaman kepada nasabah. Dengan pendekatan berbasis data, proses penilaian kredit dapat dilakukan secara lebih cepat, akurat, dan objektif sehingga mampu mengurangi risiko kerugian bagi perusahaan.

Narasumber juga menjelaskan pemanfaatan data science untuk customer segmentation. Teknik ini digunakan untuk mengelompokkan nasabah berdasarkan karakteristik dan perilaku tertentu sehingga perusahaan dapat memberikan layanan, promosi, maupun penawaran produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing segmen pelanggan. Pendekatan tersebut dapat meningkatkan efektivitas pemasaran, memperkuat loyalitas pelanggan, serta menciptakan peluang cross-selling dan up-selling yang lebih baik.

Penerapan lainnya yang turut dibahas adalah KYC (Know Your Customer) Automation. Melalui pemanfaatan teknologi seperti Optical Character Recognition (OCR), face recognition, dan liveness detection, proses verifikasi identitas nasabah dapat dilakukan secara otomatis dan lebih efisien. Implementasi teknologi ini tidak hanya mempercepat proses onboarding nasabah, tetapi juga membantu perusahaan dalam memenuhi regulasi serta meminimalkan risiko tindak kejahatan keuangan.

Lebih lanjut, narasumber menjelaskan penggunaan predictive analytics dalam industri perbankan untuk memprediksi perilaku pelanggan dan tren bisnis di masa depan. Dengan memanfaatkan data historis serta algoritma machine learning, perusahaan dapat melakukan prediksi terhadap kemungkinan pelanggan berhenti menggunakan layanan, risiko kredit, hingga kebutuhan produk tertentu. Selain itu, teknologi chatbot berbasis kecerdasan buatan juga mulai banyak digunakan untuk memberikan layanan pelanggan selama 24 jam, meningkatkan pengalaman pengguna, serta mengurangi beban operasional perusahaan.

Di akhir sesi, para narasumber menyampaikan bahwa perkembangan Financial Technology dan Sains Data membuka peluang karier yang sangat luas bagi mahasiswa. Namun, mahasiswa perlu mempersiapkan diri dengan menguasai kemampuan teknis seperti pemrograman, basis data, machine learning, serta memahami proses bisnis dan kebutuhan industri. Dengan kombinasi kemampuan teknis dan pemahaman bisnis yang baik, lulusan Sains Data diharapkan mampu berkontribusi dalam mendorong transformasi digital di berbagai sektor, khususnya industri keuangan.

Para peserta yang mayoritas merupakan mahasiswa turut aktif dalam mengikuti kegiatan ini dengan menyampaikan berbagai pertanyaan pada sesi diskusi.

“How Data Analyst Actually Work in the Era of AI”

Studium Generale, 24 Mei 2026
“How Data Analyst Actually Work in the Era of AI”
Program Studi Sains Data, Institut Teknologi Sumatera

Program Studi Sains Data, Fakultas Sains (FS), Institut Teknologi Sumatera (ITERA) kembali sukses menyelenggarakan kegiatan Studium Generale pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 dengan mengusung tema “How Data Analyst Actually Work in the Era of AI”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 24 Mei 2026 secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti oleh mahasiswa yang antusias untuk memahami perkembangan dunia kerja data analyst di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Kegiatan Studium Generale kali ini menghadirkan narasumber Miftahul Hadi, S.Si., MBA, yang saat ini berkarier sebagai Business Development – Data Presentation di detikcom. Acara dipandu oleh Ardika Satria, S.Si., M.Si., selaku moderator yang juga merupakan dosen Program Studi Sains Data ITERA. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai wadah pembelajaran dan diskusi ilmiah bagi mahasiswa agar memperoleh wawasan mengenai praktik kerja nyata seorang data analyst di industri digital, khususnya dalam menghadapi perkembangan teknologi AI yang semakin pesat.

Pada pembukaan kegiatan Studium Generale ini, disampaikan kata sambutan dari Kepala Program Studi Sains Data ITERA, Tirta Setiawan, S.Pd., M.Si. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan Studium Generale merupakan salah satu program akademik yang bertujuan untuk memberikan wawasan tambahan bagi mahasiswa di luar materi yang diperoleh selama perkuliahan. Selain itu, beliau juga menyampaikan bahwa perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar di berbagai bidang industri, termasuk pada profesi data analyst. Oleh karena itu, melalui kegiatan Studium Generale yang mengusung tema “How Data Analyst Actually Work in the Era of AI”, diharapkan mahasiswa dapat memperoleh gambaran mengenai bagaimana seorang data analyst bekerja secara nyata di dunia industri, memahami peran AI dalam mendukung proses analisis data, serta mengetahui keterampilan yang perlu dipersiapkan agar tetap relevan di era perkembangan teknologi yang semakin pesat. Selanjutnya, kegiatan secara simbolis dibuka oleh beliau dan dilanjutkan dengan pemaparan materi yang dimoderatori oleh Ardika Satria, S.Si., M.Si.

Dalam pemaparannya, Miftahul Hadi, S.Si., MBA membuka materi dengan pertanyaan mengenai alasan perusahaan masih membutuhkan data analyst di tengah berkembangnya teknologi AI seperti ChatGPT yang mampu menulis kode, mengolah data, hingga membuat visualisasi data. Beliau menjelaskan bahwa meskipun AI mampu membantu berbagai pekerjaan teknis, peran data analyst tetap sangat dibutuhkan karena dunia industri memiliki permasalahan bisnis yang kompleks dan memerlukan pemahaman konteks yang mendalam. Beliau kemudian menjelaskan kondisi industri media digital, khususnya di detikcom, yang memiliki traffic sangat besar dengan jutaan pengunjung setiap bulannya serta banyak kanal berita dengan karakteristik audiens yang berbeda-beda. Menurut beliau, semakin besar sebuah platform digital, maka semakin banyak pula problem bisnis yang harus diselesaikan menggunakan data. Oleh karena itu, data analyst memiliki peran penting dalam membantu perusahaan memahami perilaku audiens, mengevaluasi performa campaign, serta menyediakan insight yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan bisnis.

Selanjutnya, Miftahul Hadi, S.Si., MBA juga menjelaskan pengalaman kerjanya di tim Ads Operations detikcom yang berfokus pada sisi komersial dan periklanan. Dalam pekerjaannya, beliau bekerja sama dengan berbagai stakeholder, mulai dari tim sales, implementer, hingga brand yang membutuhkan insight cepat berbasis data. Beliau menjelaskan bahwa tugas utama seorang analyst tidak hanya sebatas mengolah data, tetapi juga membantu proses bisnis menjadi lebih efisien melalui penyediaan data yang relevan, cepat, dan mudah dipahami oleh stakeholder. Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menjelaskan bagaimana pekerjaan nyata seorang data analyst di industri media digital. Seorang analyst harus mampu menangani banyak dashboard untuk berbagai kanal media, memahami profil audiens, menganalisis traffic harian, hingga menentukan peak hour suatu konten. Selain itu, analyst juga harus mampu melakukan evaluasi campaign untuk mengukur apakah suatu campaign berhasil mencapai target KPI yang telah ditentukan. Beliau menekankan bahwa seorang analyst dituntut untuk adaptif karena klien dapat berasal dari berbagai industri yang memiliki kebutuhan dan konteks bisnis yang berbeda-beda.

Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa terdapat kesenjangan yang sering terjadi antara kemampuan mahasiswa dengan kebutuhan industri. Banyak fresh graduate yang berfokus pada technical skill seperti Python, SQL, machine learning, maupun penggunaan AI tools, namun belum memahami problem bisnis yang sebenarnya ingin diselesaikan. Menurut beliau, business understanding merupakan salah satu kemampuan penting yang membuat seorang analyst tetap relevan di dunia kerja. Oleh karena itu, mahasiswa tidak hanya perlu menguasai tools, tetapi juga harus mampu memahami konteks bisnis dan kebutuhan stakeholder.
Selain itu, beliau juga menjelaskan mengenai framing AI yang tepat dalam dunia kerja. Menurut beliau, banyak orang terlalu fokus mencari tools AI terbaik, padahal yang lebih penting adalah memahami pain point atau bottleneck dalam suatu workflow. AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu untuk menyelesaikan pekerjaan repetitif dan meningkatkan efisiensi kerja. Namun demikian, manusia tetap memiliki peran utama dalam menentukan problem, memvalidasi hasil, serta menghasilkan insight yang relevan bagi kebutuhan bisnis.

Dalam pemaparannya, Miftahul Hadi, S.Si., MBA juga memberikan beberapa contoh penggunaan AI di lingkungan kerja. Salah satu contohnya adalah sentiment analysis untuk menganalisis pemberitaan suatu brand di detikcom. Sebelumnya, proses labeling artikel dilakukan secara manual dan membutuhkan waktu cukup lama. Namun dengan bantuan AI, proses tersebut dapat dilakukan lebih cepat dan efisien sesuai konteks bisnis yang dibutuhkan. Selain itu, beliau juga menjelaskan penggunaan AI untuk membantu proses screenshot artikel secara otomatis yang sebelumnya memerlukan waktu berjam-jam apabila dilakukan secara
manual. Di akhir pemaparannya, beliau menegaskan bahwa pola kerja seorang analyst selalu dimulai dari problem, bukan dari tools yang digunakan. Tools dipilih berdasarkan kebutuhan dan masalah yang ingin diselesaikan. AI hanya membantu proses eksekusi, sedangkan interpretasi data dan business judgment tetap berasal dari manusia sebagai analyst. Beliau juga menjelaskan bahwa kemampuan dasar yang bersifat repetitif kemungkinan besar akan semakin mudah tergantikan oleh AI. Namun demikian, kemampuan seperti problem framing, technological literacy, komunikasi insight, serta kemampuan memahami kebutuhan stakeholder akan tetap menjadi nilai penting di masa depan.

Para peserta yang mayoritas merupakan mahasiswa Program Studi Sains Data ITERA turut aktif mengikuti kegiatan ini melalui sesi diskusi dan tanya jawab.

“Mengenal Depresi dan Pentingnya Kesehatan Mental Bagi Generasi Muda”

Studium Generale, 4 April 2026
“Mengenal Depresi dan Pentingnya Kesehatan Mental Bagi Generasi Muda”
Program Studi Sains Data, Institut Teknologi Sumatera

Program Studi Sains Data, Fakultas Sains (FS), Institut Teknologi Sumatera (ITERA) sukses menggelar kegiatan rutin Studium Generale kedua di semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 dengan mengusung tema “Mengenal Depresi dan Pentingnya Kesehatan Mental Bagi Generasi Muda”.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 4 April 2026 secara daring melalui Zoom Meeting dengan menghadirkan narasumber Dr. Rika Damayanti, M. Kep., Ns., Sp.Kep.J., sebagai Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kelembagaan Fakultas Psikologi Islam UIN Raden Intan Lampung. Pada pembukaan kegiatan Studium Generale ini, disampaikan kata sambutan dari Dekan Fakultas Sains Institut Teknologi Sumatera, Dr. Ikah Ning Prasetiowati Permanasari, S.Si., M.Si. Beliau menyampaikan bahwa tema kesehatan mental sangat relevan bagi generasi muda di era digital saat ini. Menurut beliau, perkembangan teknologi membawa banyak kemudahan, namun juga menghadirkan tantangan yang dapat memengaruhi kondisi psikologis mahasiswa. Oleh karena itu, melalui Studium Generale yang mengusung tema “Mengenal Depresi dan Pentingnya Kesehatan Mental bagi Generasi Muda”, diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan pemahaman serta kesadaran terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental.

Selanjutnya, kegiatan secara simbolis dibuka oleh beliau dan dilanjutkan dengan pemaparan materi yang dimoderatori oleh Ibu Ira Safitri, S.Si., M.Si., dosen Program Studi Sains Data ITERA. Dalam pemaparannya, Dr. Rika Damayanti menjelaskan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Sensus Penduduk Tahun 2020, Generasi Z merupakan penduduk yang lahir pada tahun 1997–2012 dengan jumlah mencapai 71.509.082 jiwa, sehingga menjadi kelompok usia terbanyak di Indonesia. Generasi ini memiliki berbagai potensi, seperti keterbukaan terhadap informasi, kemampuan adaptasi teknologi yang tinggi, motivasi untuk berkembang, serta sikap yang cenderung terbuka terhadap perubahan. Namun demikian, terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan, seperti kecenderungan individualistis dan egosentris, kurang fokus terhadap satu hal, kurang menghargai proses dan lebih tertarik pada hasil instan, lebih memprioritaskan aspek finansial, emosi yang cenderung labil, serta ketergantungan tinggi terhadap teknologi yang dapat memengaruhi kemampuan dalam
menghadapi situasi konvensional.
Beliau juga menyoroti kondisi kesehatan mental Generasi Z yang perlu menjadi perhatian serius. Berdasarkan Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, sekitar 5,5 persen remaja usia 10–17 tahun didiagnosis mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Selain itu, sekitar 34,9 persen remaja memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental. Dalam terminologi yang tepat, individu yang telah terdiagnosis gangguan jiwa disebut sebagai Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), sedangkan individu yang mengalami masalah kejiwaan namun belum terdiagnosis disebut sebagai Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK). Penggunaan istilah yang tepat penting untuk menghindari stigma negatif di masyarakat.
Lebih lanjut, Dr. Rika Damayanti memaparkan peningkatan kasus bunuh diri di Indonesia. Data hingga tahun 2024 menunjukkan bahwa dari Januari hingga Agustus 2024 tercatat 852 kasus bunuh diri. Memasuki tahun 2025, dari Januari hingga November tercatat 1.270 kasus, dengan rata-rata sekitar empat kejadian per hari. Sebagian besar pelaku berada pada rentang usia produktif, termasuk kelompok usia remaja dan dewasa muda. World Health Organization (WHO) juga melaporkan bahwa hampir setengah dari kasus bunuh diri terjadi pada rentang usia 10–39tahun. Dr. Rika Damayanti menekankan bahwa angka tersebut merupakan data yang dilaporkan, sementara kasus yang tidak terekspos diperkirakan lebih banyak.

Dalam penjelasannya mengenai kesehatan mental, Dr. Rika Damayanti menyampaikan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan individu yang memungkinkan seseorang mengenali potensi dirinya, mampu mengatasi tekanan hidup, bekerja secara produktif, serta berkontribusi bagi lingkungannya. Kesehatan mental tidak hanya berarti bebas dari gangguan jiwa, tetapi juga mencakup keseimbangan emosional, psikologis, dan sosial. Depresi dijelaskan sebagai gangguan suasana hati yang ditandai dengan perasaan sedih berkepanjangan, kehilangan minat, penurunan energi, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kesulitan konsentrasi, serta munculnya perasaan tidak berharga dan putus asa. Depresi berbeda dengan kesedihan biasa karena berlangsung dalam jangka waktu tertentu dan dapat mengganggu fungsi akademik maupun sosial. Apabila tidak ditangani dengan baik, depresi dapat meningkatkan risiko munculnya ide bunuh diri.
Beliau juga menjelaskan bahwa perilaku bunuh diri umumnya melalui tahapan, mulai dari munculnya ide, perencanaan, hingga percobaan. Faktor risiko dapat berasal dari tekanan akademik, masalah ekonomi, konflik keluarga, perundungan, hingga faktor biologis dan hormonal. Di sisi lain, faktor protektif seperti dukungan keluarga, lingkungan pertemanan yang positif, komunikasi terbuka, serta akses terhadap layanan kesehatan mental dapat membantu mencegah kondisi yang lebih serius. Sebagai langkah awal penanganan, diperkenalkan konsep Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis, yaitu upaya memberikan rasa aman, mendengarkan secara empatik tanpa menghakimi, serta membantu individu memperoleh dukungan yang dibutuhkan.
Mahasiswa diimbau untuk meningkatkan literasi kesehatan mental dan tidak ragu mencari bantuan profesional apabila mengalami tekanan psikologis. Para peserta yang mayoritas merupakan mahasiswa turut aktif mengikuti kegiatan ini dengan menyampaikan berbagai pertanyaan pada sesi diskusi. Antusiasme tersebut terlihat dari beragam pertanyaan yang diajukan terkait cara mengenali gejala depresi, strategi menjaga kesehatan mental di tengah tekanan akademik, serta upaya menciptakan lingkungan kampus yang lebih suportif.

“Working Abroad: Opportunities, Challenges, and Strategic Preparation”

Program Studi Sains Data, Fakultas Sains (FS), Institut Teknologi Sumatera (ITERA) sukses menggelar Studium Generale pertama di semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 dengan mengusung tema “Working Abroad: Opportunities, Challenges, and Strategic Preparation”.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 8 Maret 2026 secara daring melalui Zoom Meeting dengan menghadirkan narasumber Rivalni Septiadi, S.Kel., yang merupakan Educator di Department for Education South Australia sekaligus Sports Instructor dan Swim Coach. Pada pembukaan kegiatan Studium Generale ini, disampaikan kata sambutan dari Kepala Program Studi Sains Data ITERA, Bapak Tirta Setiawan, S.Pd., M.Si. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan Studium Generale merupakan salah satu program akademik yang bertujuan untuk memberikan wawasan tambahan bagi mahasiswa di luar materi yang diperoleh selama perkuliahan. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menambah pengetahuan serta memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai peluang karir di tingkat internasional. Dalam sambutannya, beliau juga menyampaikan melalui kegiatan Studium Generale yang mengusung tema “Working Abroad: Opportunities, Challenges, and Strategic Preparation”, diharapkan para peserta dapat memperoleh wawasan mengenai peluang bekerja di luar negeri, tantangan yang mungkin dihadapi, serta strategi yang perlu dipersiapkan untuk dapat bersaing di tingkat global. Selanjutnya, kegiatan secara simbolis dibuka oleh beliau dan dilanjutkan dengan pemaparan materi yang dimoderatori oleh Ibu Fitri Nurjanah, S.Si., M.Mat., yang juga merupakan dosen Program Studi Sains Data ITERA.

Dalam kesempatan kali ini, Rivalni Septiadi, S.Kel. menyampaikan materi mengenai peluang berkarir di luar negeri bagi mahasiswa, khususnya di bidang teknologi dan sains data. Beliau menjelaskan bahwa Data Science merupakan profesi yang bersifat global atau borderless, sehingga memungkinkan seseorang untuk bekerja di berbagai negara maupun bekerja secara jarak jauh (remote work) untuk perusahaan internasional. Disebutkan bahwa saat ini banyak negara mengalami kekurangan talenta di bidang data dan teknologi, seperti Jerman, Finlandia, Australia, dan Singapura, sehingga membuka peluang besar bagi para profesional di bidang tersebut. Selain itu, dijelaskan pula beberapa jalur karir global yang dapat ditempuh oleh lulusan di bidang data, di antaranya melalui direct hire sebagai lulusan baru di perusahaan luar negeri, bekerja terlebih dahulu di dalam negeri untuk membangun pengalaman sebelum melamar ke luar negeri, serta bekerja secara remote untuk perusahaan internasional tanpa harus berpindah negara.

Selanjutnya, beliau juga menjelaskan bahwa bekerja di luar negeri memberikan berbagai peluang, seperti gaji yang lebih tinggi, pengalaman bekerja dengan standar internasional, serta kesempatan menggunakan teknologi terkini di bidang artificial intelligence, cloud computing, dan data engineering. Namun demikian, terdapat beberapa tantangan yang perlu dihadapi, seperti perbedaan budaya kerja, kemampuan komunikasi dalam bahasa Inggris, tekanan performa kerja, hingga proses administrasi dan perizinan kerja di negara tujuan. Oleh karena itu, beliau menekankan pentingnya persiapan strategis, seperti meningkatkan kemampuan teknis di bidang data (misalnya Python dan SQL), membangun portofolio proyek sebagai bukti kemampuan, meningkatkan kemampuan komunikasi global, serta memahami aspek legal dan administratif seperti visa kerja dan dokumen pendukung lainnya sebelum memutuskan untuk bekerja di luar negeri.

Selain itu, Rivalni Septiadi, S.Kel. juga menjelaskan mengenai pentingnya memahami aspek legal dan administrasi bagi seseorang yang ingin bekerja di luar negeri. Beliau menyampaikan bahwa setiap negara memiliki aturan dan kebijakan visa kerja yang berbeda, sehingga calon pekerja perlu mempersiapkan dokumen serta memahami prosedur yang berlaku di negara tujuan. Beberapa jalur visa kerja yang umum digunakan antara lain Skilled Worker Visa, Employer Sponsorship, EU Blue Card, serta Post-Study Work Visa. Dijelaskan pula bahwa berbagai negara memiliki permintaan yang tinggi terhadap tenaga profesional di bidang teknologi dan data, seperti Australia, Jerman, Singapura, Kanada, Inggris, Finlandia, Amerika Serikat, Selandia Baru, hingga Uni Emirat Arab (Dubai). Negara-negara tersebut menawarkan peluang karir yang luas bagi profesional data dengan berbagai skema visa kerja dan jalur migrasi tenaga terampil.

Selanjutnya, beliau juga memaparkan roadmap atau tahapan persiapan bagi mahasiswa yang ingin membangun karier global, khususnya bagi mahasiswa Program Studi Sains Data. Pada tahap awal perkuliahan, mahasiswa disarankan untuk fokus pada penguasaan dasar pemrograman dan keterampilan teknis. Kemudian pada tahap berikutnya, mahasiswa dapat mulai membangun portfolio proyek melalui platform seperti GitHub atau Kaggle sebagai bukti kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan menggunakan data. Pada tahap yang lebih lanjut, mahasiswa juga disarankan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, membangun portfolio yang kuat, serta mempersiapkan CV yang sesuai dengan standar internasional. Dengan persiapan tersebut, mahasiswa diharapkan dapat mulai melamar pekerjaan global, program magang internasional, maupun pekerjaan remote di perusahaan luar negeri.

Di akhir pemaparannya, Rivalni Septiadi, S.Kel. juga memberikan motivasi kepada para peserta agar tidak ragu untuk mencoba berbagai peluang yang ada. Beliau menyampaikan bahwa mahasiswa tidak perlu terlalu fokus pada pengumpulan sertifikat tanpa memiliki proyek nyata, tetapi lebih penting untuk membangun portfolio, memperluas jaringan profesional, melakukan riset sebelum melamar pekerjaan, serta berani menghadapi penolakan sebagai bagian dari proses menuju peluang yang lebih besar.

Para peserta yang mayoritas adalah mahasiswa yang turut aktif dalam mengikuti kegiatan ini dengan
menyampaikan berbagai pertanyaan pada sesi diskusi.

Echoes of Insight: Becoming a Data Scientist Who Commands Attention

STUDIUM GENERALE, 3 MEI 2025

Program Studi Sains Data Fakultas Sains (FS) ITERA telah menyelenggarakan kegiatan rutin Studium Generale ke-22 Semester Genap Tahun Akademik 2024/2025 dengan tema “Echoes of Insight: Becoming a Data Scientist Who Commands Attention.” Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 3 Mei 2025, dengan narasumber Bapak Adhi Rahmadian, M.Si., seorang Data Scientist, Dosen, sekaligus petani hortikultura.

Pada pembukaan kegiatan, Kaprodi Sains Data, Bapak Tirta Setiawan, S.Pd., M.Si., memberikan sambutan bahwa Studium Generale bertujuan memberikan wawasan tambahan di luar materi perkuliahan, serta meningkatkan soft skill mahasiswa melalui pengalaman langsung dari para praktisi. Dengan tema yang diangkat, diharapkan mahasiswa mendapatkan wawasan mengenai bagaimana menjadi Data Scientist yang mampu menarik perhatian dan memberikan dampak.

Kegiatan ini dibuka secara simbolis oleh Kaprodi, dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh narasumber, serta dimoderatori oleh Ibu Ira Safitri, M.Si., MSc., selaku dosen Sains Data.

Materi Studium Generale

Narasumber memaparkan materi “Echoes of Insight: Becoming a Data Scientist Who Commands Attention.” Tema ini diangkat karena banyak praktisi Data Science yang bagus secara teknis, namun tidak mampu menyampaikan temuannya secara berdampak. Narasumber juga mengutip kalimat Albert Einstein: “If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough.”

Berikut empat poin utama materi narasumber:

  1. The Missing Link
    Aspek non-teknis menjadi penting saat akurasi tidak cukup. Penyebab gagalnya implementasi model Data Science di antaranya:
    • Pengambil keputusan tidak memahami model.
    • Tim teknis gagal menerjemahkan model menjadi nilai bisnis.
    • Kurangnya perhatian terhadap kepentingan pemangku kepentingan.
      Data VentureBeat 2019 menyatakan bahwa 87% proyek Data Science tidak berlanjut ke tahap produksi. Ini menunjukkan bahwa akurasi bukan segalanya, tetapi dampak dan komunikasi juga penting.
  2. The Complete Data Scientist
    Narasumber menyampaikan bahwa seorang Data Scientist yang lengkap memiliki empat hal:
    • Technical skills.
    • Communication skills.
    • Domain knowledge.
    • Influence skills.
  3. Storytelling with Data
    Otak manusia memahami cerita lebih cepat dibandingkan angka. Dengan visualisasi, otak merespons 60.000 kali lebih cepat dibanding teks. Narasumber mencontohkan Florence Nightingale yang menyampaikan pesan dengan visualisasi “diagram mawar” dan berdampak besar terhadap reformasi sanitasi. Lima elemen penting dalam storytelling:
    • Konteks (mengapa penting),
    • Karakter (siapa yang terdampak),
    • Konflik (apa masalahnya),
    • Perjalanan (bagaimana menemukannya),
    • Resolusi (apa yang harus dilakukan).
      Salah satu studi kasus adalah penurunan drastis pelanggan baru bulan pertama karena ada hambatan saat proses onboarding.
  4. Negotiation & Influence Skills
    Analogi gunung es menunjukkan bahwa analisis hanyalah permukaan dari tantangan organisasi. Di bawah permukaan ada:
    • Keterbatasan sumber daya,
    • Perspektif pemangku kepentingan,
    • Ketidakselarasan rekomendasi dengan kondisi organisasi.
    Dalam sesi “Building Your Influence,” narasumber menyampaikan bahwa seorang analis perlu berkembang menjadi penasihat strategis. Caranya:
    • Berkomunikasi secara konsisten.
    • Membangun personal branding.
    • Menepati komitmen.
    • Menyusun portofolio yang kuat.

Mahasiswa Sains Data sangat antusias dan aktif selama kegiatan berlangsung. Banyak pertanyaan diajukan kepada narasumber, yang menunjukkan ketertarikan peserta terhadap topik yang dibawakan.

Studium Generale : Developing Strategic Plans To Drive Business Growth

Program studi Sains Data dari Institut Teknologi Sumatera dengan bangga menyelenggarakan sesi Studium Generale dengan tema “Developing Strategic Plans To Drive Business Growth” pada hari Sabtu, 17 Februari 2024. Kegiatan ini dilakukan secara  online melalui Zoom, dengan jumlah tampungan yang mencapai lebih dari 250 peserta.

Studium Generale merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menambah wawasan mahasiswa diluar kelas wajib, sesi kali ini berfokus pada pembahasan peran penting perencanaan strategis untuk mengarahkan pertumbuhan bisnis dan hubungannya dengan Big Data. Pada kegiatan ini, selain menerima informasi para peserta juga dapat mengajukan pertanyaan hingga berdiskusi langsung dengan narasumber terkait materi.

Pembicara pada acara Studium Generale kali ini adalah Nurhainah Nadira Sitorus, seorang Digital Business Development Analyst, beliau merupakan seorang Data Analyst yang berfokus pada pengembangan bisnis dan telah bekerja dibeberapa Perusahaan seperti Shopee dan Astra Credit Companies. Melalui informasi yang disampaikain oleh beliau, para peserta dapat memiliki sudut pandang baru mengenai pengembangan bisnis menggunakan Big Data dan aplikasinya secara langsung didunia pekerjaan.

Pada acara ini, terlihat bahwa para peserta sangat antusias untuk mendalami topik kali ini, para peserta bahkan tidak henti-hentinya menyampaikan pendapat serta pertanyaannya baik melalalui kolom komentar maupun dengan raise hand dan open mic secara langsung, mereka tampak semangat untuk memperoleh pengetahuan dan inspirasi dalam ranah sains data dan stategi bisnis yang diberikan.

Dapat disimpulkan bahwa acara Studium Generale kali ini yang mengangkat tema “Developing Strategic Plans To Drive Business Growth” yang disampaikan oleh Nurhainah Nadira Sitorus sebagai pembicara, telah berlangsung dengan sukses. Acara ini juga menunjukkan semangat yang tinggi dari para peserta untuk mendapatkan pengetahuan  baru terkait bidang Sains Data.

Para peserta yang mayoritas adalah mahasiswa turut aktif mengikuti acara studium general ini dengan menyampaikan berbagai pertanyaan pada sesi tanya jawab. Melalui kegiatan ini diharapkan para peserta dapat memahami materi Developing Strategic Plans To Drive Business Growth.