Category: Studium Generale

“Mengenal Depresi dan Pentingnya Kesehatan Mental Bagi Generasi Muda”

Studium Generale, 4 April 2026
“Mengenal Depresi dan Pentingnya Kesehatan Mental Bagi Generasi Muda”
Program Studi Sains Data, Institut Teknologi Sumatera

Program Studi Sains Data, Fakultas Sains (FS), Institut Teknologi Sumatera (ITERA) sukses menggelar kegiatan rutin Studium Generale kedua di semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 dengan mengusung tema “Mengenal Depresi dan Pentingnya Kesehatan Mental Bagi Generasi Muda”.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 4 April 2026 secara daring melalui Zoom Meeting dengan menghadirkan narasumber Dr. Rika Damayanti, M. Kep., Ns., Sp.Kep.J., sebagai Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kelembagaan Fakultas Psikologi Islam UIN Raden Intan Lampung. Pada pembukaan kegiatan Studium Generale ini, disampaikan kata sambutan dari Dekan Fakultas Sains Institut Teknologi Sumatera, Dr. Ikah Ning Prasetiowati Permanasari, S.Si., M.Si. Beliau menyampaikan bahwa tema kesehatan mental sangat relevan bagi generasi muda di era digital saat ini. Menurut beliau, perkembangan teknologi membawa banyak kemudahan, namun juga menghadirkan tantangan yang dapat memengaruhi kondisi psikologis mahasiswa. Oleh karena itu, melalui Studium Generale yang mengusung tema “Mengenal Depresi dan Pentingnya Kesehatan Mental bagi Generasi Muda”, diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan pemahaman serta kesadaran terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental.

Selanjutnya, kegiatan secara simbolis dibuka oleh beliau dan dilanjutkan dengan pemaparan materi yang dimoderatori oleh Ibu Ira Safitri, S.Si., M.Si., dosen Program Studi Sains Data ITERA. Dalam pemaparannya, Dr. Rika Damayanti menjelaskan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Sensus Penduduk Tahun 2020, Generasi Z merupakan penduduk yang lahir pada tahun 1997–2012 dengan jumlah mencapai 71.509.082 jiwa, sehingga menjadi kelompok usia terbanyak di Indonesia. Generasi ini memiliki berbagai potensi, seperti keterbukaan terhadap informasi, kemampuan adaptasi teknologi yang tinggi, motivasi untuk berkembang, serta sikap yang cenderung terbuka terhadap perubahan. Namun demikian, terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan, seperti kecenderungan individualistis dan egosentris, kurang fokus terhadap satu hal, kurang menghargai proses dan lebih tertarik pada hasil instan, lebih memprioritaskan aspek finansial, emosi yang cenderung labil, serta ketergantungan tinggi terhadap teknologi yang dapat memengaruhi kemampuan dalam
menghadapi situasi konvensional.
Beliau juga menyoroti kondisi kesehatan mental Generasi Z yang perlu menjadi perhatian serius. Berdasarkan Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, sekitar 5,5 persen remaja usia 10–17 tahun didiagnosis mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Selain itu, sekitar 34,9 persen remaja memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental. Dalam terminologi yang tepat, individu yang telah terdiagnosis gangguan jiwa disebut sebagai Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), sedangkan individu yang mengalami masalah kejiwaan namun belum terdiagnosis disebut sebagai Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK). Penggunaan istilah yang tepat penting untuk menghindari stigma negatif di masyarakat.
Lebih lanjut, Dr. Rika Damayanti memaparkan peningkatan kasus bunuh diri di Indonesia. Data hingga tahun 2024 menunjukkan bahwa dari Januari hingga Agustus 2024 tercatat 852 kasus bunuh diri. Memasuki tahun 2025, dari Januari hingga November tercatat 1.270 kasus, dengan rata-rata sekitar empat kejadian per hari. Sebagian besar pelaku berada pada rentang usia produktif, termasuk kelompok usia remaja dan dewasa muda. World Health Organization (WHO) juga melaporkan bahwa hampir setengah dari kasus bunuh diri terjadi pada rentang usia 10–39tahun. Dr. Rika Damayanti menekankan bahwa angka tersebut merupakan data yang dilaporkan, sementara kasus yang tidak terekspos diperkirakan lebih banyak.

Dalam penjelasannya mengenai kesehatan mental, Dr. Rika Damayanti menyampaikan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan individu yang memungkinkan seseorang mengenali potensi dirinya, mampu mengatasi tekanan hidup, bekerja secara produktif, serta berkontribusi bagi lingkungannya. Kesehatan mental tidak hanya berarti bebas dari gangguan jiwa, tetapi juga mencakup keseimbangan emosional, psikologis, dan sosial. Depresi dijelaskan sebagai gangguan suasana hati yang ditandai dengan perasaan sedih berkepanjangan, kehilangan minat, penurunan energi, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kesulitan konsentrasi, serta munculnya perasaan tidak berharga dan putus asa. Depresi berbeda dengan kesedihan biasa karena berlangsung dalam jangka waktu tertentu dan dapat mengganggu fungsi akademik maupun sosial. Apabila tidak ditangani dengan baik, depresi dapat meningkatkan risiko munculnya ide bunuh diri.
Beliau juga menjelaskan bahwa perilaku bunuh diri umumnya melalui tahapan, mulai dari munculnya ide, perencanaan, hingga percobaan. Faktor risiko dapat berasal dari tekanan akademik, masalah ekonomi, konflik keluarga, perundungan, hingga faktor biologis dan hormonal. Di sisi lain, faktor protektif seperti dukungan keluarga, lingkungan pertemanan yang positif, komunikasi terbuka, serta akses terhadap layanan kesehatan mental dapat membantu mencegah kondisi yang lebih serius. Sebagai langkah awal penanganan, diperkenalkan konsep Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis, yaitu upaya memberikan rasa aman, mendengarkan secara empatik tanpa menghakimi, serta membantu individu memperoleh dukungan yang dibutuhkan.
Mahasiswa diimbau untuk meningkatkan literasi kesehatan mental dan tidak ragu mencari bantuan profesional apabila mengalami tekanan psikologis. Para peserta yang mayoritas merupakan mahasiswa turut aktif mengikuti kegiatan ini dengan menyampaikan berbagai pertanyaan pada sesi diskusi. Antusiasme tersebut terlihat dari beragam pertanyaan yang diajukan terkait cara mengenali gejala depresi, strategi menjaga kesehatan mental di tengah tekanan akademik, serta upaya menciptakan lingkungan kampus yang lebih suportif.

“Working Abroad: Opportunities, Challenges, and Strategic Preparation”

Program Studi Sains Data, Fakultas Sains (FS), Institut Teknologi Sumatera (ITERA) sukses menggelar Studium Generale pertama di semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 dengan mengusung tema “Working Abroad: Opportunities, Challenges, and Strategic Preparation”.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 8 Maret 2026 secara daring melalui Zoom Meeting dengan menghadirkan narasumber Rivalni Septiadi, S.Kel., yang merupakan Educator di Department for Education South Australia sekaligus Sports Instructor dan Swim Coach. Pada pembukaan kegiatan Studium Generale ini, disampaikan kata sambutan dari Kepala Program Studi Sains Data ITERA, Bapak Tirta Setiawan, S.Pd., M.Si. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan Studium Generale merupakan salah satu program akademik yang bertujuan untuk memberikan wawasan tambahan bagi mahasiswa di luar materi yang diperoleh selama perkuliahan. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menambah pengetahuan serta memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai peluang karir di tingkat internasional. Dalam sambutannya, beliau juga menyampaikan melalui kegiatan Studium Generale yang mengusung tema “Working Abroad: Opportunities, Challenges, and Strategic Preparation”, diharapkan para peserta dapat memperoleh wawasan mengenai peluang bekerja di luar negeri, tantangan yang mungkin dihadapi, serta strategi yang perlu dipersiapkan untuk dapat bersaing di tingkat global. Selanjutnya, kegiatan secara simbolis dibuka oleh beliau dan dilanjutkan dengan pemaparan materi yang dimoderatori oleh Ibu Fitri Nurjanah, S.Si., M.Mat., yang juga merupakan dosen Program Studi Sains Data ITERA.

Dalam kesempatan kali ini, Rivalni Septiadi, S.Kel. menyampaikan materi mengenai peluang berkarir di luar negeri bagi mahasiswa, khususnya di bidang teknologi dan sains data. Beliau menjelaskan bahwa Data Science merupakan profesi yang bersifat global atau borderless, sehingga memungkinkan seseorang untuk bekerja di berbagai negara maupun bekerja secara jarak jauh (remote work) untuk perusahaan internasional. Disebutkan bahwa saat ini banyak negara mengalami kekurangan talenta di bidang data dan teknologi, seperti Jerman, Finlandia, Australia, dan Singapura, sehingga membuka peluang besar bagi para profesional di bidang tersebut. Selain itu, dijelaskan pula beberapa jalur karir global yang dapat ditempuh oleh lulusan di bidang data, di antaranya melalui direct hire sebagai lulusan baru di perusahaan luar negeri, bekerja terlebih dahulu di dalam negeri untuk membangun pengalaman sebelum melamar ke luar negeri, serta bekerja secara remote untuk perusahaan internasional tanpa harus berpindah negara.

Selanjutnya, beliau juga menjelaskan bahwa bekerja di luar negeri memberikan berbagai peluang, seperti gaji yang lebih tinggi, pengalaman bekerja dengan standar internasional, serta kesempatan menggunakan teknologi terkini di bidang artificial intelligence, cloud computing, dan data engineering. Namun demikian, terdapat beberapa tantangan yang perlu dihadapi, seperti perbedaan budaya kerja, kemampuan komunikasi dalam bahasa Inggris, tekanan performa kerja, hingga proses administrasi dan perizinan kerja di negara tujuan. Oleh karena itu, beliau menekankan pentingnya persiapan strategis, seperti meningkatkan kemampuan teknis di bidang data (misalnya Python dan SQL), membangun portofolio proyek sebagai bukti kemampuan, meningkatkan kemampuan komunikasi global, serta memahami aspek legal dan administratif seperti visa kerja dan dokumen pendukung lainnya sebelum memutuskan untuk bekerja di luar negeri.

Selain itu, Rivalni Septiadi, S.Kel. juga menjelaskan mengenai pentingnya memahami aspek legal dan administrasi bagi seseorang yang ingin bekerja di luar negeri. Beliau menyampaikan bahwa setiap negara memiliki aturan dan kebijakan visa kerja yang berbeda, sehingga calon pekerja perlu mempersiapkan dokumen serta memahami prosedur yang berlaku di negara tujuan. Beberapa jalur visa kerja yang umum digunakan antara lain Skilled Worker Visa, Employer Sponsorship, EU Blue Card, serta Post-Study Work Visa. Dijelaskan pula bahwa berbagai negara memiliki permintaan yang tinggi terhadap tenaga profesional di bidang teknologi dan data, seperti Australia, Jerman, Singapura, Kanada, Inggris, Finlandia, Amerika Serikat, Selandia Baru, hingga Uni Emirat Arab (Dubai). Negara-negara tersebut menawarkan peluang karir yang luas bagi profesional data dengan berbagai skema visa kerja dan jalur migrasi tenaga terampil.

Selanjutnya, beliau juga memaparkan roadmap atau tahapan persiapan bagi mahasiswa yang ingin membangun karier global, khususnya bagi mahasiswa Program Studi Sains Data. Pada tahap awal perkuliahan, mahasiswa disarankan untuk fokus pada penguasaan dasar pemrograman dan keterampilan teknis. Kemudian pada tahap berikutnya, mahasiswa dapat mulai membangun portfolio proyek melalui platform seperti GitHub atau Kaggle sebagai bukti kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan menggunakan data. Pada tahap yang lebih lanjut, mahasiswa juga disarankan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, membangun portfolio yang kuat, serta mempersiapkan CV yang sesuai dengan standar internasional. Dengan persiapan tersebut, mahasiswa diharapkan dapat mulai melamar pekerjaan global, program magang internasional, maupun pekerjaan remote di perusahaan luar negeri.

Di akhir pemaparannya, Rivalni Septiadi, S.Kel. juga memberikan motivasi kepada para peserta agar tidak ragu untuk mencoba berbagai peluang yang ada. Beliau menyampaikan bahwa mahasiswa tidak perlu terlalu fokus pada pengumpulan sertifikat tanpa memiliki proyek nyata, tetapi lebih penting untuk membangun portfolio, memperluas jaringan profesional, melakukan riset sebelum melamar pekerjaan, serta berani menghadapi penolakan sebagai bagian dari proses menuju peluang yang lebih besar.

Para peserta yang mayoritas adalah mahasiswa yang turut aktif dalam mengikuti kegiatan ini dengan
menyampaikan berbagai pertanyaan pada sesi diskusi.

Echoes of Insight: Becoming a Data Scientist Who Commands Attention

STUDIUM GENERALE, 3 MEI 2025

Program Studi Sains Data Fakultas Sains (FS) ITERA telah menyelenggarakan kegiatan rutin Studium Generale ke-22 Semester Genap Tahun Akademik 2024/2025 dengan tema “Echoes of Insight: Becoming a Data Scientist Who Commands Attention.” Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 3 Mei 2025, dengan narasumber Bapak Adhi Rahmadian, M.Si., seorang Data Scientist, Dosen, sekaligus petani hortikultura.

Pada pembukaan kegiatan, Kaprodi Sains Data, Bapak Tirta Setiawan, S.Pd., M.Si., memberikan sambutan bahwa Studium Generale bertujuan memberikan wawasan tambahan di luar materi perkuliahan, serta meningkatkan soft skill mahasiswa melalui pengalaman langsung dari para praktisi. Dengan tema yang diangkat, diharapkan mahasiswa mendapatkan wawasan mengenai bagaimana menjadi Data Scientist yang mampu menarik perhatian dan memberikan dampak.

Kegiatan ini dibuka secara simbolis oleh Kaprodi, dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh narasumber, serta dimoderatori oleh Ibu Ira Safitri, M.Si., MSc., selaku dosen Sains Data.

Materi Studium Generale

Narasumber memaparkan materi “Echoes of Insight: Becoming a Data Scientist Who Commands Attention.” Tema ini diangkat karena banyak praktisi Data Science yang bagus secara teknis, namun tidak mampu menyampaikan temuannya secara berdampak. Narasumber juga mengutip kalimat Albert Einstein: “If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough.”

Berikut empat poin utama materi narasumber:

  1. The Missing Link
    Aspek non-teknis menjadi penting saat akurasi tidak cukup. Penyebab gagalnya implementasi model Data Science di antaranya:
    • Pengambil keputusan tidak memahami model.
    • Tim teknis gagal menerjemahkan model menjadi nilai bisnis.
    • Kurangnya perhatian terhadap kepentingan pemangku kepentingan.
      Data VentureBeat 2019 menyatakan bahwa 87% proyek Data Science tidak berlanjut ke tahap produksi. Ini menunjukkan bahwa akurasi bukan segalanya, tetapi dampak dan komunikasi juga penting.
  2. The Complete Data Scientist
    Narasumber menyampaikan bahwa seorang Data Scientist yang lengkap memiliki empat hal:
    • Technical skills.
    • Communication skills.
    • Domain knowledge.
    • Influence skills.
  3. Storytelling with Data
    Otak manusia memahami cerita lebih cepat dibandingkan angka. Dengan visualisasi, otak merespons 60.000 kali lebih cepat dibanding teks. Narasumber mencontohkan Florence Nightingale yang menyampaikan pesan dengan visualisasi “diagram mawar” dan berdampak besar terhadap reformasi sanitasi. Lima elemen penting dalam storytelling:
    • Konteks (mengapa penting),
    • Karakter (siapa yang terdampak),
    • Konflik (apa masalahnya),
    • Perjalanan (bagaimana menemukannya),
    • Resolusi (apa yang harus dilakukan).
      Salah satu studi kasus adalah penurunan drastis pelanggan baru bulan pertama karena ada hambatan saat proses onboarding.
  4. Negotiation & Influence Skills
    Analogi gunung es menunjukkan bahwa analisis hanyalah permukaan dari tantangan organisasi. Di bawah permukaan ada:
    • Keterbatasan sumber daya,
    • Perspektif pemangku kepentingan,
    • Ketidakselarasan rekomendasi dengan kondisi organisasi.
    Dalam sesi “Building Your Influence,” narasumber menyampaikan bahwa seorang analis perlu berkembang menjadi penasihat strategis. Caranya:
    • Berkomunikasi secara konsisten.
    • Membangun personal branding.
    • Menepati komitmen.
    • Menyusun portofolio yang kuat.

Mahasiswa Sains Data sangat antusias dan aktif selama kegiatan berlangsung. Banyak pertanyaan diajukan kepada narasumber, yang menunjukkan ketertarikan peserta terhadap topik yang dibawakan.

Studium Generale : Developing Strategic Plans To Drive Business Growth

Program studi Sains Data dari Institut Teknologi Sumatera dengan bangga menyelenggarakan sesi Studium Generale dengan tema “Developing Strategic Plans To Drive Business Growth” pada hari Sabtu, 17 Februari 2024. Kegiatan ini dilakukan secara  online melalui Zoom, dengan jumlah tampungan yang mencapai lebih dari 250 peserta.

Studium Generale merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menambah wawasan mahasiswa diluar kelas wajib, sesi kali ini berfokus pada pembahasan peran penting perencanaan strategis untuk mengarahkan pertumbuhan bisnis dan hubungannya dengan Big Data. Pada kegiatan ini, selain menerima informasi para peserta juga dapat mengajukan pertanyaan hingga berdiskusi langsung dengan narasumber terkait materi.

Pembicara pada acara Studium Generale kali ini adalah Nurhainah Nadira Sitorus, seorang Digital Business Development Analyst, beliau merupakan seorang Data Analyst yang berfokus pada pengembangan bisnis dan telah bekerja dibeberapa Perusahaan seperti Shopee dan Astra Credit Companies. Melalui informasi yang disampaikain oleh beliau, para peserta dapat memiliki sudut pandang baru mengenai pengembangan bisnis menggunakan Big Data dan aplikasinya secara langsung didunia pekerjaan.

Pada acara ini, terlihat bahwa para peserta sangat antusias untuk mendalami topik kali ini, para peserta bahkan tidak henti-hentinya menyampaikan pendapat serta pertanyaannya baik melalalui kolom komentar maupun dengan raise hand dan open mic secara langsung, mereka tampak semangat untuk memperoleh pengetahuan dan inspirasi dalam ranah sains data dan stategi bisnis yang diberikan.

Dapat disimpulkan bahwa acara Studium Generale kali ini yang mengangkat tema “Developing Strategic Plans To Drive Business Growth” yang disampaikan oleh Nurhainah Nadira Sitorus sebagai pembicara, telah berlangsung dengan sukses. Acara ini juga menunjukkan semangat yang tinggi dari para peserta untuk mendapatkan pengetahuan  baru terkait bidang Sains Data.

Para peserta yang mayoritas adalah mahasiswa turut aktif mengikuti acara studium general ini dengan menyampaikan berbagai pertanyaan pada sesi tanya jawab. Melalui kegiatan ini diharapkan para peserta dapat memahami materi Developing Strategic Plans To Drive Business Growth.

Data Science in Fintech Industry

Dengan perkembangan teknologi yang semakin berkembang pesat, membuka peluang bagi seorang Data Science untuk bekerja di berbagai bidang, salah satunya pada  bidang Fintech. Guna meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai karir seorang Data Science di bidang Fintech, bersamaan dengan peluang tersebut prodi Sains Data bersama himpunan mahasiswa sains data (HMSD) mengadakan Studium Generale ke-8 dengan tema Data Science in Fintech Industry pada Sabtu, 26 Juni 2023 dengan menghadirkan narasumber Founder & CEO PT. AMA Salam Indonesia yaitu Bapak Agus Hermawan, S.Si., M.Si.

Koordinator Program Studi Sains Data ITERA, Tirta Setiawan,S.Pd.,M.Si  dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada narasumber Agus Hermawan, S.Si., M.Si. yang telah bersedia hadir menjadi narasumber  Studium Generale  ke-8  prodi Sains Data, serta para civitas akademika ITERA yang telah menyempatkan waktunya untuk hadir di Studium Generale. Tema pada Studium Generale ke-8  merupakan tema baru  yang pertama kali diadakan oleh prodi Sanis  Data. Dengan diadakannya Studium Generale ke- 8 diharapkan para peserta dapat mengambil info sebanyak banyaknya dari narasumber mengenai Sains Data dalam bidang Fintech.

Dalam penuturannya, Agus Hermawan, S.Si., M.Si. yang merupakan seorang Founder & CEO menyampaikan bahwa Fintech merupakan perusahaan yang berfokus pada deliver sebuah layanan keuangan kepada konsumen. Bidang Fintech sendiri sudah diregulasi oleh Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ) dan Bank Indonesia ( BI ). Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Boston Consulting Group ( BCG ) tahun 2021 dijelaskan bahwa layanan keuangan bidang Fintech ( digital ) lebih baik jika dibandingkan dengan transaksi tradisional. Pada bidang Fintech diperlukan pengetahuan cloud computing, mobile services serta IoT yang  baik.

Ditekankan kembali, sebagai seorang Data Scientist ( DS ) harus memiliki skill dan pengetahuan dalam bidang bisnis, matematika statistika dan ilmu komputer. Selain itu, seorang DS harus paham mengenai package, tools, dan library yang akan digunakan untuk memecahkan masalah dari sebuah dataset. Diera serba teknologi AI (Artificial intelligence) sudah banyak berkembang saat ini bahkan dalam berbagai aspek salah satunya pada bidang Fintech. Salah satu pendorong pertumbuhan Fintech adalah AI, dimana AI dapat membantu cost efficiency dan decision intelligence. AI sangat dibutuhkan dalam dunia Fintech, karena dengan adanya AI dapat membantu pekerjaan seorang DS dalam hal training sebuah dataset.. Berdasarkan pengalaman pemateri, bidang Data Science sendiri banyak melakukan pekerjaan  preparing dan cleansing data karena terkadang sumber data yag didapatkan belum terstruktur dengan baik.

Dalam Studium Generale yang dimoderatori  oleh Vidia M.Sc. juga dibahas bahwa suatu pengetahuan tidak bisa hanya berpatokan pada suatu keilmuan, yang artinya sebagai seorang Data Science kita harus terus menambah ilmu ataupun skill secara terus menerus karena sebagai seorang Data Scientist kita harus selalu up to date terhadap perkembangan teknologi yang ada. 

Pengembangan Model Machine LearningPada Penilaian Daur Hidup(Life Cycle Assesment- LCA)

Dalam era teknologi canggih yang terus berkembang, machine learning telah menjadi kekuatan pendorong yang luar biasa. Dengan kemampuan komputasi yang tinggi dan ketersediaan data yang melimpah, machine learning mampu menghadirkan transformasi yang luar biasa di berbagai bidang. Salah satu bidang tersebut adalah pengembangan model machine learning pada penilaian daur hidup(Life Cycle Assesment- LCA). Guna meningkatkan pemahaman mahasiswa seputar Pengembangan Model Machine Learning Pada Penilaian Daur Hidup, Prodi Sains Data bersama himpunan mahasiswa sains data (HMSD) menggelar kegiatan rutin Studium Generale dengan mengusung tema “Pengembangan Model Machine Learning Pada Penilaian Daur Hidup(Life Cycle Assesment- LCA)”. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Selasa, 30 Mei 2023 dengan menghadirkan narasumber Nugroho Adi Sasongko, Ph.D, IPU yang merupakan Kepala Pusat Riset Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup.

Koordinator Program Studi Sains Data ITERA, Tirta Setiawan,S.Pd.,M.Si dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada narasumber Nugroho Adi Sasongko, Ph.D, IPU yang telah bersedia menjadi narasumber dengan harapan studium generale yang disampaikan memberikan gambaran awal mengenai peran machine learning dalam Life Cycle Assement(LCA) dan bagaimana kontribusinya terhadap pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan terdiri dari 3 pilar utama yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Dalam penuturannya, Nugroho Adi Sasongko, Ph.D, IPU menyampaikan Perancis merupakan negara dengan emisi paling stabil, pencapaian ini didukung dengan bantuan data sains yang efektif. Seseorang yang belajar data science harus interdispliner yaitu tidak hanya fokus pada satu database. Terdapat beberapa skill yang harus dimiliki salah satunya adalah machine learning. Tipe Machine learning yang sering digunakan adalah supervised learning yang terdiri dari klasifikasi dan regresi. Machine Learning dapat dikembangkan dalam penilaian daur hidup(Life Cycle Assessment- LCA).

Life Cycle Assessment (LCA) tidak hanya mencakup lingkungan tetapi bisa isu sosial seperti jumlah buruh,korupsi, tenaga kerja, dan sebagainya. Terdapat hubungan antara LCA dengan Carbon footprint yang mana carbon footprint merupakan salah satu bagian dari Life Cycle Impect Assessment. Pada tahun ini di Indonesia akan terdapat pasar karbon yang berasal dari pembangkit listrik. Machine learning model LCA untuk produk berbasis pendekatan mengggunakan data, yang mana machine learning akan membuat model dari dataset yang tersedia.

Pengembangan model machine learning dalam penilaian daur hidup (Life Cycle Assessment – LCA) membuka pintu menuju pemahaman yang mendalam tentang dampak lingkungan produk atau layanan. Dengan menggali data-data berharga yang tersebar di seluruh ranah digital, model-model canggih ini dapat memecahkan teka-teki kompleks yang tersembunyi dalam siklus hidup produk, membantu kita mengidentifikasi pola tersembunyi, mengoptimalkan desain berkelanjutan, dan bahkan memprediksi perilaku konsumen untuk masa depan yang lebih ramah lingkungan. Dengan memanfaatkan teknologi digital, model-machine learning menjelma menjadi pemandu yang cerdas dalam perjalanan menuju masa depan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.